Lika - Liku Kuliah Salah Jurusan.

Albert Enstein pernah mengatakan, "Kuliah salah jurusan itu ibarat pakai kolor sempit di tengah perjalanan menggunakan kereta jarak jauh yang gak ada toiletnya. Serba salah. Mau diterusin, nyesek. Mau ganti juga, kan tanggung belum sampai tujuan."

Perasaan salah jurusan ini bisa hadir kapan saja. Bisa ketika baru masuk / lulus kuliah, bisa ketika sadar mata kuliah jurusan tersebut susah-susah, atau bisa juga ketika patah hati setelah ditolak gebetan di jurusan yang sama. Hal-hal tersebut hadir karena beberapa penyebab, yang salah satunya adalah kita kurang tau lebih dalam tentang jurusan kuliah yang diinginkan. Efek dari salah jurusan ini juga bisa bermacam-macam, mulai dari nilai-nilai ujian yang jelek, sering bolos kuliah, hingga merasa pengen cepet lulus dan pengen langsung kawin aja.

Selama 4 tahun kuliah, gue berulangkali merasa kalau sebenarnya gue salah jurusan. Gue merasa bahwa apa yang gue pelajari di kampus selama ini, agak kurang sesuai dengan apa yang gue inginkan. So, di postingan kali ini, gue mau rangkum beberapa jurusan yang pernah membuat gue merasa salah jurusan.

1. Ilmu Komputer.

Sebelum lulus SMA, sebenarnya gue udah mempersiapkan jurusan apa yang akan gue ambil saat kuliah. Pilihannya terletak pada jurusan Teknik Komputer dan jurusan Ilmu Komputer. Gue mencari informasi tentang jurusan tersebut mulai dari browsing sana-sini hingga bertanya ke saudara / kakak kelas. Gue selalu cerita ke mereka tentang ketertarikan gue pada hal-hal yang berhubungan dengan komputer, khususnya bagian software. Hingga akhirnya gue mendapatkan jawaban bahwa hal yang gue suka tersebut tercakup pada jurusan Teknik Komputer.

Beberapa bulan berselang, pengumuman hasil SNMPTN pun keluar. Gue keterima di jurusan Teknik Komputer. Tapi selang beberapa minggu setelahnya, saat masa pengenalan dunia kampus, gue baru sadar bahwa apa yang akan dipelajari di jurusan Teknik Komputer lebih mengarah ke bagian hardware, bukan bagian software seperti yang gue inginkan... dan jurusan yang lebih mempelajari bagian software adalah Ilmu Komputer, bukan Teknik Komputer.

Kampret...

Lowongan Kerja Jurusan Teknik Komputer
Lowongan kerja untuk computer engineer. Kampret kuadrat... (sumber)

2. Dokter Kandungan.

Ketika SMA, gue diajar oleh guru Biologi yang super asik. Hal itu membuat gue bercita-cita untuk masuk jurusan kedokteran. Sayangnya setelah kelas 1 hampir selesai, gue baru sadar kalau satu-satunya materi yang gue ngerti hanyalah bab sistem reproduksi yang ada di kelas 11. Akhirnya gue pun mau gak mau harus mengurungkan niat untuk menjadi dokter.

Meskipun sebenarnya saat itu gue juga sempat kepikiran untuk menjadi dokter kandungan, tapi lagi-lagi niat tersebut harus gue urungkan. Gue gak mau merusak masa depan bayi-bayi di Indonesia. Karena gue takut akan membuat mereka mengalami trauma berkepanjangan, ketika tau bahwa gue adalah dokter yang membantu persalinannya.

Kuliah Salah Jurusan.
Tweet gue dua tahun yang lalu.

3. Psikologi.

Saat memasuki tahun kedua sebagai mahasiswa Teknik Komputer, gue mulai merasa sedikit jenuh dengan apa yang gue pelajari. Akhirnya gue mencoba mengambil mata kuliah lintas jurusan untuk melengkapi jatah SKS pilihan gue. Pilihan pun jatuh kepada salah satu mata kuliah di Fakultas Psikologi, bernama Identifikasi dan Pengembangan Kreatifitas.

Belajar mata kuliah yang benar-benar baru ternyata gak semenakutkan apa yang gue pikirkan. Setiap pertemuan kelas tersebut hampir selalu diisi dengan diskusi kelompok dan diselingi game-game kecil. Saat itu gue ibarat seseorang yang sedang jenuh sama pacarnya karena dia cuek, lalu bertemu dengan seseorang baru yang lebih seru dan enak diajak curhat. Gue pun kemudian berpikir "kenapa gue gak masuk jurusan Psikologi aja ya? kelasnya seru! Beda banget sama kelas di Fakultas gue yang satu menit pertama dosen masuk kelas, papan tulis masih kosong. Kemudian 5 menit berikutnya, papan tulis udah kaya gini.........."

Dosen Teknik
Kalau satu hari materinya kaya begitu, kebayang gak saat UAS materinya sebanyak apa? Yang pasti lebih banyak dari rasa sayang kamu ke aku. (sumber)

4. Advertising.

Keinginan untuk masuk jurusan advertising ini terlintas ketika gue liburan semester 6 dan menonton ulang film From Bandung With Love. Salah satu film Indonesia yang menurut gue punya twist ending bagus. Di film itu, Marsha Timothy berperan sebagai Vega, salah satu mahasiswi yang bekerja part time di sebuah kantor advertising, ia ditugaskan untuk membuat sebuah konsep sebuah iklan yang diminta oleh klien. Hal tersebut ternyata membuat gue berpikir "kok kayanya seru juga ya jurusan advertising. Bisa bikin konsep iklan. Pasti rasanya bangga banget deh kalau konsep kita dibuatkan iklannya oleh klien."

Tapi sayangnya, keinginan tersebut menguap gitu aja seiring dengan berakhirnya film tersebut. Padahal, kalau masuk jurusan advertising, gue punya cita-cita yang sungguh besar...

yaitu membuat official iklan sendal Swallow pertama di Indonesia.

5. Sastra Inggris.

Jurusan terakhir yang membuat gue merasa salah jurusan adalah Sastra Inggris. Keinginan ini terpikirkan lagi-lagi ketika gue mengambil mata kuliah lintas jurusan. Kali ini mata kuliah yang gue ambil berasal dari Fakultas Ilmu Budaya, jurusan Sastra Inggris, bernama Perkembangan Industri Perfilman Hollywood. Saat itu yang terlintas di pikiran gue adalah "mata kuliahnya seru banget, cuma membahas film doang di setiap pertemuannya. Waktu itu kenapa gue gak masuk jurusan Sastra Inggris aja ya? Kali aja bisa bikin / main film di Hollywood..."

Tapi untuk kesekian kalinya, gue mengurungkan niat tersebut. Gue baru sadar kalau sebagian besar bule ngomongnya kaya orang lagi kumur-kumur begini :

NGOMONG APAANSIH?! Kalau ngomong coba air kumur-kumurnya dikeluarin dulu, Mister... (sumber)

***

Nah itu dia 5 jurusan yang pernah membuat gue merasa salah jurusan. Meskipun pada akhirnya gue lulus dari jurusan teknik komputer, bukan jurusan ilmu komputer, kedokteran, psikologi, advertising ataupun sastra inggris seperti yang gue sebutkan di atas, entah kenapa kadang gue suka merasa agak 'kurang sreg' dengan jurusan ini. Di sisi lain, gue juga setuju sama kata-kata Alitt Susanto di buku Relationshit-nya : "untuk menikmati hidup, kita harus banyak berkarya" dan mungkin untuk menyiasati hal itu (baca : salah jurusan), gue akan terus menulis di blog ini. Walaupun entah ada yang baca atau nggak.

So, kalau balik lagi ke awal postingan, gue akan sedikit merevisi kata-katanya Albert Enstein tersebut menjadi...

"Kuliah salah jurusan itu ibarat pakai kolor sempit di tengah perjalanan menggunakan kereta jarak jauh yang gak ada toiletnya. Serba salah. Mau diterusin, nyesek. Mau ganti juga, kan tanggung belum sampai tujuan... Tapi ya kita juga punya dua pilihan, turun dari kereta tersebut - ganti kolor - dan beli tiket untuk kereta selanjutnya, atau menikmati setiap detail jalan yang ada meski kolor sempitnya bikin nyesek." *kesambet* 

Bonus : 
Tara de Thouars
Namanya Tara Adhisti de Thouars, lulusan Psikologi UI. Kalau psikolognya cantik begini, kamu yakin gak mau jadi orang gila aja? (sumber)
Previous
Next Post »

8 Komentar

avatar

Om, tau gak? Jurusan sastra Indonesia belajar psikologi sama advertising lho, dan masih banyak lagi aspek kehidupan yang dipelajari di situ muehehe. Selamat ya udah lulus! Aku, sih, percaya jalan sukses ada dua: akademik dan kreativitas. Kalau ngerasa salah di akademik, ya coba jalur satunya hehehe



Salam,


Mahasiswa sastra :p

Balas
avatar

Om.................................? gue belom setua itu deh kayanya. :"")


Eh tapi seriusan di sastra indonesia belajar advertising sama psikologinya juga? wah... enak juga ya. Temen gue juga ada beberapa yang di sasind sih. Tapi gue baru tau kalo mata kuliahnya ada hubungannya sama advertising sama psikologinya gitu. :O

Balas
avatar

sejujurnya, gua sendiri belom tau mau jadi apa nanti kalo udah keluar dari SMA. Sumpah, gada petunjuk. Pasrah aja kali yak. hahaha

Balas
avatar

Hmm, jangan pasrah sob. Kita masih bisa nentuin mau jadi apa di masa depan kok. Mulai dari sekarang aja cari jurusan yang pas sama keinginan.. Jangan sampe salah jurusan ya! :D

Balas
avatar

Meeeeh cakep! Untung aje lo gak pake adegan depresi gitu ye. Hahaha.

Intinya sih, kita harus yakin dan benar-benar usaha dengan jalan yang kita pilih. Bentuk tanggung jawab atas kehidupan di dunia. Beh! Sadis nggak, tuh? :p

Balas
avatar

Sebenernya ada, karena kelanjutan ceritanya gue jadi depresi dan kerjaan gue pun ngorek-ngorek tanah saat tengah hari bolong..

Hahaha, nggak deng becanda.

Beuh keren! butuh berapa lama tuh nyusun kata-kata kaya gitu? :p

Balas
avatar

Bang, gue salah jurusan nih, masuk di salah satu ptn terbaik di indonesia, minat gw awalnya pengen ambil teknik komputer , cm krna gue gk mau di mumetin sama kalkulus algoritma dan sejenis di jurusan tsb gw mutusin ambil jurusan teknologi industri pertanian yg gw anggep "teknologi" bisa bantu gue wujudin mimpi jd engineering yg berbau teknologi mesko di bidang teknologi pertanian, dan ternyata gw mlh lbh salah jurusan -,- , meskipun gw nikmati matkul dasar pemrograman,dan matkul yg berbau teknologi, tapi gue justru ketemu matkul kimia dan ekonomi teknik yg menurut gw bukan passion gw banget :'v hoho , ada solusi? Niatnya si taun depan gw mau ikut tes lg d jurusan lain, tp gw hrs bisa nyelesein kisah cinta gue sama jurusan yg gw hadapi skrg ini hehe ._.v

Balas
avatar

Hmm, kalo ngutip dari komentarnya Pertiwi Yuliana di atas, "Jalan sukses itu ada dua : akademik dan kreativitas. Kalau ngerasa salah di akademik, ya coba jalur satunya". Lagian kita kan kuliah di kelas cuma beberapa jam sehari, masih banyak sisa waktu yang bisa kita pake buat di dunia luar, entah itu ngambil mata kuliah pilihan di fakultas lain, ikut UKM, ikut organisasi, atau ikut kegiatan di luar yang sesuai dengan passion kita.

Temen di satu jurusan gue juga banyak kok yang ngerasa salah jurusan gitu, tapi mereka punya kegiatan lain yang sesuai dengan passion mereka di luar. Akhirnya alhamdulillah bisa lulus bareng2 satu angkatan dan nilai2 mereka pun memuaskan. :"))

atau saran yang lain, coba aja jalanin dulu.. siapa tau kita cuma belom menemukan hal yang kita suka di jurusan yang sekarang. Gak sedikit juga kok orang yang awalnya ngerasa salah jurusan, tapi pas udah semeseter akhir, malah jatuh cinta sama jurusan itu dan ngerasa passion mereka sebenernya ada di sana.

Hehehehe. :)

Balas