Cinta Monyet.

Karena lagi gak ada ide buat nulis postingan, kali ini gue mau publish tulisan yang sempat gue bahas sedikit di paragraf awal postingan Lagi Bener. Semoga gue gak nangis setelah selesai nulis postingan ini... HUAHAHAHAHAHA.


Buat nemenin kalian baca postingan ini..

***

Well, sekitar hampir enam bulan ini gue gak ngekost lagi. Hal ini membuat gue harus pulang pergi Bekasi-Depok dengan naik kereta Shinkansen. Karena jarak Bekasi-Depok sangat gak mungkin bisa ditempuh dengan kendaraan lain. Kalaupun bisa, jadinya akan seperti film Interstellar dengan kearifan lokal.

Barang-barang yang tadinya ada di kamar kost pun semuanya gue bawa pulang. Barang-barang tersebut kini menghuni kamar tidur gue di rumah. Sekaligus membuat kondisi kamar jadi seperti hati seseorang yang udah pacaran lama, terus putus begitu aja karena alasan yang sepele. Ya, berantakan!

Alat tulis, buku, kertas fotokopian, hingga baju kotor sukses menempati setiap sudut kamar gue.
Sebagai cowo Virgo, gue gak suka dengan hal yang berantakan kaya gini. Tapi apa daya, rasa malas gue selalu lebih besar dari keinginan untuk merapikannya. Hingga akhirnya suatu saat, gue pun kesambet setan rajin.

Hari itu, dengan ditemani lagu-lagu di playlist laptop yang diputar secara acak, gue mulai menjalankan misi mulia ini. Satu hal yang paling menyenangkan kalau lagi ngeberesin kamar adalah ketika kita menemukan benda-benda yang sudah lama "hilang", lengkap dengan kenangan-kenangan yang tersimpan di dalamnya. Seperti saat gue merapikan laci lemari, dan menemukan mainan masa kecil berupa beberapa buah Hot Wheels yang tersimpan rapi dalam sebuah kotak. Seketika mobil-mobilan itu pun seolah mengajak bernostalgia ke masa-masa saat gue masih SD.

Hot Wheels
Hot Wheels (sumber gambar : Google).

Saat itu, ketika gue masih kelas 4 SD, gue bercita-cita buat punya mobil sport yang keren. Tapi karena saat itu uang jajan gue cuma Rp 3.000, akhirnya gue pun cuma bisa membeli replika mobil sport tersebut. Iya, Hot Wheels namanya. Mobil-mobilan kecil berukuran kurang lebih 3 cm x 6 cm ini emang keren banget. Pilihan model yang beragam, bikin gue punya keinginan buat ngoleksi mainan kecil ini. Tapi nyokap selalu ngajarin gue satu hal, untuk mendapatkan suatu hal yang kita inginkan, maka kita harus mau sedikit berkorban.

Akhirnya mulai hari itu, gue selalu menyisihkan uang jajan setiap pulang sekolah. Agar gue bisa membeli mainan Hot Wheels kesukaan gue. Waktu itu harga satu buah Hot Wheels masih Rp 14.900, dan dengan nabung Rp 2000 setiap hari, gue bisa beli mobil-mobilan itu setiap satu minggu sekali. Sehingga tanpa sadar, satu persatu koleksi mobil Hot Wheels gue pun mulai bertambah banyak.

Di sisi lain.. berawal dari sebuah ledek-ledekan, gue akhirnya kenal dengan seorang cewek bernama Vita. Gue sama dia beda kelas. Dia kelas 5A, dan gue kelas 5B. Tapi meskipun begitu, setiap jam istirahat, dia sering main ke kelas gue hanya untuk menanyakan beberapa soal bahasa Inggris. Hal itu pun terus berulang setiap hari dan membuat kita berdua menjadi semakin dekat. Hingga akhirnya gue merasa... gue suka sama Vita.

          JEGERRR!!!

Agak lucu memang ketika ada dua orang anak kecil yang sedang jatuh cinta, karena mereka begitu apa adanya. Mereka gak perlu mikir kenapa mereka bisa saling suka, mereka gak perlu mikir apakah si dia adalah yang terbaik, dan mereka juga gak perlu mikir mau dibawa kemana hubungan tersebut. Satu-satunya hal yang dipikirkan adalah bagaimana cara untuk bisa selalu ada buat dia, selalu dekat dengan dia, dan selalu berkorban buat dia.

Sama persis seperti apa yang gue alami saat itu, gue gak mau jauh dari Vita. Gue jadi suka main ke kelasnya hanya untuk ngisengin atau ngeledekin. Sejak saat itu, gue sama Vita semakin sering main bareng di sekolah ataupun di rumahnya, ngerjain soal bahasa Inggris bareng, ke kantin bareng, dan senam SKJ 2000 bareng-bareng (yaiyalah! kalau bertiga mah senam pagi-nya Feni Rose di ANTV). Bahkan suatu hari, ketika telah menginjak kelas 6 SD, Vita pernah menelpon ke rumah gue dan bilang kalau dia jatuh dari tangga hingga mengalami sedikit luka. Karena khawatir, jiwa laki-laki gue yang udah sunat pun keluar dan langsung pergi ke rumah dia dengan menggunakan sepeda, walaupun sebenarnya hari itu kondisi cuaca sedang sedikit gerimis. Saat itu gue merasa seperti seorang Leonardo Di Caprio yang mau berkorban demi Kate Winslet di film Titanic. Rela berkorban demi orang yang gue suka. Gue juga udah siap bila suatu hari cerita gue ini akan dijadikan film dan menjadi Box Office.

Sesampainya di depan rumah Vita, gue langsung bertemu dengan tetangganya yang saat itu sudah SMP. Namanya Dian. Rumah Dian tepat berada di samping rumah Vita, dan saat itu kebetulan Dian sedang bermain di sana.

          "Cieee, dateng.. khawatir ya sama Vita?" kata Dian.

Gue diam, dan Vita malah tertawa.

          "Hahahahahaha. Sebenernya Vita tuh gak jatuh dari tangga. Dia cuma mau ngajak elo main aja." lanjut Dian.
          "Main apa?" tanya gue polos.
          "Main bola bekel atau apa kek gitu, Elo gak kangen emangnya kalau nanti Vita pindah rumah?" jawab Dian. FYI : skill gue dalam bermain bekel saat jauh dari standar. Gue hanya bisa sampai level pit atau level ro. (Lah?)

          "Hah? Pindah rumah?" tanya gue.
          "Iya, Sar. Abis lulus, aku mau pindah rumah. Tempat kerja Mama aku pindah ke Bogor. Jadi aku ikut Mama aku pindah ke sana." jawab Vita dengan yakin.

          JEGERRR!!!

Gue cuma bisa kembali terdiam. Gerimis yang sejak tadi turun di luar rumah, kini malah masuk hingga ke hati gue tanpa permisi...

Hugging in the Rain


***

Beberapa bulan setelah itu, kita berdua lulus dari SD. Gue melanjutkan sekolah di salah satu SMP di Bekasi, dan Vita pindah ke Bogor bersama keluarganya. Karena saat itu kita sama-sama belum punya handphone dan social media belum sebanyak sekarang, akhirnya gue sama Vita pun lost contact. Gue gak tau gimana kabar dia, hingga suatu hari, kita bertemu lagi di sebuah chat Facebook. Sampai sekarang gue pun belum sempat bilang suka sama Vita, dan gue juga belum tau perasaan Vita ke gue kaya gimana.

Tapi satu hal yang pasti...

Gue jadi sadar...

Jatuh cinta kepada seseorang jauh berbeda dengan jatuh cinta kepada sebuah benda (Hot Wheels). Karena ketika kita jatuh cinta pada sebuah benda, kita hanya perlu sedikit berkorban untuk mendapatkan dan merawat benda tersebut. Tetapi ketika kita jatuh cinta pada seseorang, mau berkorban saja tidak cukup. Karena selain pengorbanan, kita juga perlu keberanian untuk mengungkapkannya.
Previous
Next Post »

4 Komentar

avatar

very informative post for me as I am always looking for new content that can help me and my knowledge grow better.

Balas
avatar

woohoo, thaaanks. hope you literally read and like it. hehehe :D

Balas