Tips : Mencari Dispenser Ideal Untuk Anak Kost.

Di pertengahan tahun 2011 lalu, gue resmi menyandang status mahasiswa. Gue keterima di salah satu universitas di kota Depok, dan berhubung jarak kampus tersebut dari rumah gue di Bekasi mencapai jutaan tahun cahaya. Maka bersamaan dengan itu, dimulai pula perjalanan gue sebagai seorang anak kost.

Ada cukup banyak barang yang gue persiapkan untuk dibawa langsung dari rumah, di mana beberapa di antaranya pernah gue tulis di postingan berjudul 10 Barang yang Harus Ada di Kostan. Namun sebagai simpatisan PKB (Penghuni Kost Baru), gue baru sadar bahwa ada satu barang penting yang gue lewatkan, setelah selama satu minggu pertama ngekost, gue selalu menuang air langsung dari galon (dengan cara memiringkannya) setiap kali mau minum. Yaa, gue lupa bawa dispenser ke kostan.

dispenser anak kost

Sayangnya, saat itu kondisi gue lagi super ribet. Karena sebagai mahasiswa baru, gue lumayan disibukkan dengan kegiatan ospek dan kegiatan kampus lainnya. Sehingga waktu gue untuk mencari dispenser yang ideal sangat lah terbatas. Pada awalnya, sebagai anak kost sejati, hanya ada tiga kriteria yang membuat sebuah dispenser itu layak untuk dimiliki, yaitu :
     1. murah,
     2. murah,
     3. bisa mengeluarkan air dari galon tanpa perlu dimiringkan.

Namun seiring berjalannya waktu, berdasarkan penelitian yang gue lakukan terhadap 2.712.109.126 anak kost di kota Depok, ditambah dengan pengalaman yang selama ini gue dapat, gue menemukan kriteria-kriteria lain yang sedikit lebih kompleks dari sebelumnya. So, di postingan kali ini, gue mau share tentang kriteria-kriteria tersebut. Dengan harapan, agar dapat mempermudah anak kost-anak kost baru yang sedang mencari dispenser ideal. Karena mengutip sebuah kalimat yang pernah diucapkan seorang filsuf Yunani, "jadi anak kost itu sulit, maka permudahlah hidup mereka dengan memberikan tips-tips melalui postingan blog".


1. Harga dan kualitas.

"Harga menentukan kualitas", istilah tersebut mungkin sering kita dengar ketika ingin membeli suatu barang yang memiliki tipe dan fitur begitu beragam. Sedangkan di sisi lain, kondisi keuangan anak kost yang sangat memprihatinkan terbatas, seolah menuntut kita untuk mendapatkan barang dengan kualitas terbaik, namun dengan harga yang seminimal mungkin. 

Jadi menurut gue, membuat skala prioritas pengeluaran sesuai dengan kebutuhan setiap bulan adalah cara yang paling bijak, untuk mempermudah kita mendapatkan sebuah dispenser ideal tanpa harus mengorbankan kebutuhan lainnya.

Karena akan sangat gak lucu kalau di awal bulan, kita memilih untuk membeli dispenser dengan harga mahal, tapi di hari-hari berikutnya, kita harus :
     - sarapan dengan Promag,
     - makan siang dengan mie instan,
     - dan makan malam dengan Mylanta biar ada variasi. 

Catatan : Sebelum membeli dispenser, coba lakukan survey sederhana tentang kelebihan dan kekurangan beberapa merek terkenal. Kalau kalian masih bingung, coba diskusi ke Penasihat Keuangan IMF untuk meminta solusi. Siapa tau mereka jadi sedih mendengar perjuangan kita sebagai anak kost, lalu membuat sebuah regulasi tentang pengurangan harga barang bagi seluruh anak kost di dunia.


2. Bahan tangki air yang digunakan.

Hal yang gak kalah penting dari sebuah dispenser ideal adalah bahan yang digunakan untuk tangki airnya. Pilihlah sebuah dispenser dengan tangki air berbahan stainless steel, karena bahan ini akan menjaga suhu panas dengan baik, serta memiliki kemampuan anti bakteri dan jamur. Sehingga tingkat kehigienisan dispenser jenis ini akan relatif lebih tinggi daripada dispenser lainnya.

Catatan : Ingat, ya! STAINLESS STEEL bukan BASTIAN STEEL!
emangnya kenapa?


3. Hemat listrik.

Terdapat dua jenis kostan yang ada di Indonesia, yaitu :
     - kostan yang harga kamarnya sudah termasuk biaya listrik, air, dll.
     - kostan yang memerlukan biaya tambahan lagi untuk bayar listrik, air, dll (biasanya memiliki harga kamar yang sedikit lebih murah).

Bagi kalian yang tinggal di kostan tipe pertama, kriteria kali ini mungkin gak terlalu berpengaruh secara langsung. Karena berapapun watt dispenser yang kita punya, kita akan tetap bayar kost dengan harga yang sama seperti sebelumnya. Tapi bagi kalian yang tinggal di kostan tipe kedua, kriteria kali ini sangat penting untuk diperhatikan.

Untuk itu, pilihlah dispenser yang memiliki daya rendah atau nyalakan hanya ketika dibutuhkan saja.

Catatan :  Buat kalian yang tinggal di kostan tipe kedua, ingin punya dispenser sendiri, tapi gak mau bayar listrik mahal, tenang... dispenser genjot mungkin bisa jadi solusi buat kalian.
dispenser genjot



4. Fitur tambahan.

Beberapa fitur tambahan yang saat ini ditawarkan, antara lain :
     - Water purifier. Secara umum, fitur ini berfungsi sebagai sebuah penyaring air minum, yang mampu menjaga kestabilan PH air dan membuatnya bebas dari bakteri. Sehingga air yang dihasilkan menjadi lebih sehat untuk dikonsumsi.
     - Variasi box bawah. Sejauh ini, ada beberapa variasi yang tersedia pada sebuah dispenser. Mulai dari tempat untuk menyimpan galon cadangan, freezer untuk menyimpan makanan atau minuman agar tetap dingin, hingga steril box yang berfungsi untuk mencuci dan mensterilkan piring, gelas, botol susu bayi, dll.

Namun bagi seorang anak kost, fitur tambahan ini hanya bersifat optional. Karena fitur-fitur ini akan membuat harga dispenser menjadi kurang manusiawi.

Sorry gue ralat...

Karena fitur-fitur ini akan membuat harga dispenser menjadi kurang anakkostsiawi.

Catatan : Sebagai perbandingan, satu buah dispenser genjot hanya dipatok dengan harga Rp 17ribu. Sedangkan satu buah dispenser dengan fitur water purifier, dipatok dengan harga Rp 7.9 juta. Yha! untuk kriteria ini, dispenser genjot tampaknya lebih ideal bagi seorang anak kost.


5. Kemudahan untuk mendapatkannya.

Perkembangan teknologi yang begitu cepat belakangan ini, membuat hampir semua hal yang awalnya terasa rumit, menjadi lebih mudah dikerjakan. Seperti misalnya, pengalaman gue tentang bagaimana ribetnya mencari sebuah dispenser, yang sempat gue tulis di awal postingan. Karena lumayan disibukkan dengan kegiatan awal perkuliahan, ditambah dengan gak mau bawa dispenser dari Bekasi, gue akhirnya memutuskan untuk beli dispenser langsung di pasar Depok. Itupun harus naik ojek dari kostan, karena di Depok gue gak punya kendaraan pribadi. Asli, ribet abis...

Tapi sekarang, 6 tahun berselang, banyak toko-toko online menawarkan produk dispenser yang begitu beragam. Salah satunya yang paling gue percaya adalah Mataharimall.com. Mereka gak cuma menawarkan kepraktisan bagi pembeli (kita hanya perlu membuka webnya lewat browser / aplikasi hape, pesan barangnya, bayar via transfer, lalu duduk manis menunggu pesanan datang), tapi mereka juga menawarkan berbagai macam harga dan model dispenser. Mulai dari dispenser genjot seharga 17 ribu, sampai dispenser yang dilengkapi dengan water purifier seharga 7.9 juta. Gak cuma itu aja, kini Mataharimall.com dilengkapi dengan layanan pengiriman dengan menggunakan GO-SEND. Sehingga kita gak perlu lagi nunggu barang yang kita pesan tiba hingga berhari-hari lamanya. So, buat para anak kost yang lagi nyari dispenser buat di kamarnya, bisa beli dispenser air di sini.

Catatan : beli dispenser air? di Mataharimall.com aja!

***

Well, itu dia beberapa kriteria yang membuat sebuah dispenser ideal untuk dimiliki oleh seorang anak kost. Semoga postingan ini bisa bermanfaat untuk khalayak ramai. Karena kalau gue boleh melanjutkan kutipan kalimat seorang filsuf Yunani yang sudah gue tulis di atas, maka kutipannya akan menjadi seperti ini :


"Jadi anak kost itu sulit, maka permudahlah hidup mereka dengan memberikan tips-tips melalui postingan blog. Lalu buatlah penulis postingan tersebut senang, dengan ketik "Aamiin" di kolom komentar dan share postingan ini ke teman-teman dekatmu.
 JANGAN SAMPAI BERHENTI DI KAMU!". 

Antara Gebetan, Tato dan Filosofi Dispenser.

Pagi itu adalah hari kedua gue libur masa tenang sebelum menghadapi Ujian Nasional SMP. Sebagai anak kelas 3, gue memilih untuk menghabiskan liburan kali ini dengan kegiatan-kegiatan yang gak ada hubungannya dengan pelajaran. Karena gue takut, kelulusan yang sudah di depan mata ini akan rusak akibat gue stress dengan waktu belajar yang terlalu diforsir  lalu gue pun gila  jadi suka jalan-jalan keliling komplek pakai kolor doang  nyasar sampai ke Area 51  dianggap meresahkan keamanan oleh pemerintah Amerika  ditembak pakai rudal.

See?

Efeknya memang bisa sangat mengerikan!
dan buat kalian yang nanya kenapa bisa nyasar sampai ke Area 51, gue gak tau..............
.
.
.
.
.
namanya juga orang gila!

***

Satu-satunya kegiatan bermanfaat yang gue lakukan di liburan kali ini adalah les bahasa Inggris. Karena menurut gue, sebagai bahasa internasional, bahasa Inggris memiliki peran yang sangat penting untuk menghubungkan kita dengan dunia luar. Tanpa bahasa Inggris, perkembangan karir kita akan relatif lebih lambat. Tanpa bahasa Inggris, akses terhadap ilmu pengetahuan pun menjadi terbatas, dan tanpa bahasa Inggris... kita gak akan bisa minta foto bareng bule yang ada di Kota Tua.

***

Jadi saat itu, gue les bahasa Inggris di salah satu tempat yang gak begitu jauh dari rumah. Jaraknya hanya sekitar 150 meter. Yaa, emang sih bukan tempat kursus dengan nama besar seperti LIA, English First atau Wall Street. Tapi bagi gue itupun udah cukup. Karena dengan les di tempat tersebut, gue jadi punya cerita yang bisa gue tulis di blog ini.

Ceritanya tentang salah satu teman les gue, namanya Stella. Nama lengkapnya Stella All in One.

Hehe. Gak deng, bercanda.

Nama lengkapnya Stella Natalia. Dia cantik, putih, tinggi, wajahnya agak oriental, pintar, dan yang pasti ramah. Banyak yang bilang kalau Stella ini mirip sama cewek Korea. Jika boleh mengibaratkan, maka Stella mirip banget sama istrinya Kim Jong Un.

Hehehe. Gak deng, ini juga bercanda.

Pokoknya sosok Stella itu "sempurna" di mata gue, dan sebagai cowok yang udah disunat pakai gunting di salah satu dokter di Bekasi sejak kelas 2 SD, gue pun suka sama Stella.

Suatu hari, gue berangkat ke tempat kursus lebih cepat dari biasanya. Gue berniat untuk menyelesaikan tugas minggu lalu yang belum sempat gue kerjakan di rumah. Selain itu, gue juga berharap bisa ngobrol sama Stella lebih lama. Karena gue tau, selama ini Stella selalu datang lebih awal. Yaa, siapa tau dari percakapan tersebut gue bisa menemukan kecocokan dengan dia, atau minimal bisa menemukan solusi atas masalah kesenjangan sosial dan korupsi yang ada di Indonesia.

OKE, SKIP!

Selang beberapa menit, terdengar suara sepeda yang gue tau itu adalah sepedanya Stella. By the way, tempat kursus gue ini berbentuk rumah pribadi. Jadi ketika ada seseorang yang masuk melalui pintu pagar, akan sangat terdengar suaranya.

     "Loh, kamu tumben udah sampe, Sar."
     "Iya, pengen ngerjain tugas dulu soalnya. Kamu udah selesai?"
     "Tinggal nomer 8. Aku liat dong.."
     "Nih, tapi nanti gantian yaa. Aku liat nomer 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 9, sama 10." jawab gue seraya memberikan buku catatan.
     "Yee, itumah kamu belom semua namanya!"

Saat Stella sedang asyik menyalin tugas, sekilas gue mengamati dia dari tempat duduk yang berada tepat di seberangnya. Gue melihat ada yang berbeda dari kaki Stella. Agak sedikit kotor...

Gue pun langsung teringat salah satu kutipannya Mandy Hale :
To make a difference in someone's life, you do not have to be brilliant, rich, beautiful, or perfect. You just have to care.
Yang artinya adalah....... gak tau. Gue cuma nyari di Google dengan keyword "quotes about caring someone".

     "Stel, kaki kamu kenapa tuh? ada item-itemnya gitu, kayanya kena oli sepeda deh."
     "Hah? yang mana?"
     "Itu yang di betis kanan kamu."
     "Oh, ini tato temporer, Sar. Aku baru pulang dari Bali tadi siang. Bukan oli sepeda kaya yang kamu kira! Hahahaha." kata Stella yang langsung terbahak.

ekspresi gue saat itu (sumber gambar)

Ternyata benar, setelah gue lihat betis Stella dengan lebih teliti, "noda hitam" yang gue maksud sebenarnya sebuah tato kumpulan kupu-kupu. Mungkin karena warnanya yang hitam, ditambah lagi dengan ukurannya yang agak kecil dan kurang terlihat dengan jelas, maka tato tersebut terlihat seperti noda bekas cipratan yang suka nempel di kaki kalau rantai sepeda gue baru ganti oli. Kampret...  

Ilustrasi tato kupu-kupu di betis Stella.

Singkat cerita, gue dan Stella pun lulus SMP. Kita lanjut ke SMA yang beda. Lulus dari sana, lalu lanjut ke universitas yang berbeda pula. Gue kuliah di UI, sedangkan Stella kuliah di Australia. 

Sampai akhirnya liburan semester genap tanpa sengaja mempertemukan kita di sebuah cafe di daerah Tebet. Saat itu gue lagi nunggu beberapa temen kuliah buat kumpul-kumpul. Sementara dia lagi ngedate sama pacarnya. Iya, dia sama pacarnya. Awalnya gue gak sadar kalau dia juga ada di cafe yang sama. Tapi setelah mencari tempat duduk yang pas dan memesan minuman. Stella menghampiri gue, sementara cowoknya memilih untuk pindah ke smoking room. 

Sore itu kita berdua ngobrol lumayan lama. Beralih dari satu topik ke topik lainnya yang selama ini belum sempat gue tanyakan. Sampai-sampai gue merasa, gue telah mengenal Stella sedikit lebih dalam. Suatu hal yang harusnya bisa gue lakukan 4 tahun lalu, saat masih les bahasa Inggris bareng dia. Karena terbawa suasana, gue juga jadi lupa kalau di smoking room, ada cowoknya Stella yang lagi ngeliatin gue dengan tatapan : "Buset nih kerak panci, asyik banget kayanya ngobrol sama cewek gue. Belom pernah diselengkat Pogba kali yaa."

Obrolan pun terhenti ketika salah satu teman kuliah gue datang, dan Stella memilih untuk kembali menemui pacarnya di smoking room. Sebelum pisah, dia bilang kalau ada satu hal yang mau diomongin.

Gue deg-degan.

Tapi di sisi lain, gue udah berjanji pada diri gue sendiri untuk menolak secara halus kalau tiba-tiba Stella mutusin pacarnya dan dia nembak gue kaya di acara "Katakan Putus".

     "Mau ngomong apa, Stel?" tanya gue dengan tegas.

     "Oh, ini... tangan aku kena oli sepeda nih, Sar. Hahahaha." kata Stella sambil menunjukan pergelangan tangan kirinya yang ternyata ada tato baru bertuliskan "Faith".

SIKAMPRET! DIA NGELEDEK GUE!!!

Ilustrasi tato "faith" di pergelangan tangan Stella.

Yang gue lakukan saat itu : pura-pura mati.


***

Sejak pertemuan terakhir dengan Stella di cafe Tebet, gue belum pernah ketemu dia lagi. Kita berdua pun bener-bener lost contact. Karena satu-satunya nomer hape Stella yang gue punya adalah nomer yang gue minta saat kita masih les bahasa Inggris bareng. 4 tahun gak ketemu, bikin gue jadi gak tau kabar terbaru tentang dia. Termasuk nomer hape dan juga akun social medianya.

Seorang temen kuliah gue pernah bilang satu hal yang kemudian ia beri nama dengan sebutan "Filosofi Dispenser". Kata dia begini :
Gue kadang merasa bahwa salah satu fase dalam suatu hubungan tuh seperti sebuah dispenser, dan kita-lah yang menjadi airnya. Sebab seringkali kita dipertemukan sejenak dengan seseorang dalam satu "galon" yang sama. Namun kemudian dipisahkan karena mungkin keduanya sesederhana punya tujuan hidup yang berbeda. Kita memilih untuk jadi "air panas" dan dia memilih untuk jadi "air dingin", ataupun sebaliknya. 
Yaa, nama filosofi yang agak aneh memang, meskipun gue merasa kalau kalimat di atas cukup relate dengan kondisi gue. Karena selama ini gue dan Stella hanya dipertemukan sejenak, kemudian kembali dipisahkan karena sesederhana hidup kita yang beririsan pada bagian terkecilnya aja. Tapi satu hal yang pasti, siklus sebuah titik air masih panjang, dan kita belum tau di mana kita akan dipertemukan dengan titik-titik air yang lainnya. Entah itu di danau, di awan, di lautan, atau mungkin kembali dipertemukan di sebuah galon yang sama, pada sebuah dispenser.

Nikmatilah Kebersamaan, While It Lasts.

Beberapa hari ini, entah kenapa gue mendadak kangen sama teman-teman kampus. Mungkin karena saat kuliah dulu, kumpul bareng mereka bisa sesederhana satu baris pesan dalam sebuah chat. Misalnya ketika gue masih kuliah semester 2, sekitar jam 9 pagi, gue nge-Whatsapp Andri (yang sebelumnya gue ceritain di postingan ini).

     "Ndri, lagi di mana? ikut ngebolang sama anak-anak yuk!"

Tanpa perlu waktu lama, Andri pun langsung membalas.

     "Lagi di kampus, Sar. Sebentar lagi ada kelas. Mau jalan-jalan kemana emang?"
     "Keliling Jakarta, Ndri. Ini gue lagi di Monas... Nanti kalau lo mau nyusul, kabarin ya."
     "Wah, seru nih kayanya! Yaudah gue gak jadi masuk kelas deh, dosennya juga gak jelas. Hahaha."
     "Lah, elo yakin di kelas gak ada kuis?"
     "Gampang, kuis mah bisa susulan! Lagian udah lama juga gue gak ke Monas. Tunggu gue ya!"

Ya, berawal dari satu baris pesan yang gue kirim ke Andri, akhirnya hari itu kita semua jalan-jalan keliling Jakarta. Satu hal sederhana yang mungkin sulit buat diulangi lagi. Karena kenyataannya, setelah lulus dan punya kesibukan masing-masing, kumpul bareng mereka seolah jadi anugerah terindah bagi rindu yang selalu mengalah.

Selama 4 tahun kuliah, ada banyak banget cerita yang gue alami bareng mereka. Mulai dari cerita masa MaBa (mahasiswa baru) yang masih pada polos, hingga cerita mahasiswa tingkat akhir yang hobinya adalah bolos. Beberapa di antaranya mungkin akan gue ceritakan di postingan selanjutnya. Karena sekarang, gue lagi gak mau nostalgia terlalu jauh ke masa-masa kuliah.

So di postingan kali ini, yang gue mau share adalah tentang beberapa tempat di Jakarta yang bisa dijadikan destinasi ngebolang bareng teman-teman terbaik, terbangke, terlucu, terkampret, ter-annoying yang kalian punya. Karena kalau kata @yeahmahasiswa...



1. Kota Tua

Salah satu sudut di Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta. (sumber)

Terletak di perbatasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara, kawasan Kota Tua memang terbilang cukup strategis. Selain itu keunikan eksterior gedung ala kolonial Belanda, ditambah dengan harga tiket masuk dan aneka jajanan yang relatif terjangkau seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Hal-hal yang bisa kita lakukan di kawasan ini begitu beragam. Mulai dari berkeliling naik sepeda ontel, hunting foto, menikmati kuliner khas Jakarta, menikmati sunset di Pelabuhan Sunda Kelapa, menikmati aksi seniman jalanan (seperti tukang ramal, manusia patung, perajin gelang, pelukis siluet, seniman tato, dll), hingga belajar sejarah di beberapa museum yang ada.

Oh ya, khusus buat para jomblo, gue menyarankan untuk mempersiapkan juga mental dan fisik kalian. Sebab kawasan Kota Tua sering dipakai untuk foto prewedding. Jangan sampai di tengah keseruan ngebolang bareng teman, kalian teringat kalimat sakral dari orang tua yang berbunyi : "anak Bu Joko udah nikah loh, udah punya anak juga 11 orang, kamu kapan?"

...lalu kalian pun nangis karena merasa belum bisa ngasih cucu ke orang tua. Atau lebih parahnya, kalian memilih untuk mengacaukan kegiatan prawedding tersebut, kalian ditangkap polisi, dan akhirnya kalian dipenjara di LP Nusa Kambangan seumur hidup. Pedih jenderal~

2. Monumen Nasional (Monas)

Monumen Nasional (sumber)

Menurut  Wikipedia, tujuan didirikannya Monumen Nasional adalah untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah. Tugu setinggi 132 meter ini memiliki keunikan pada bagian puncaknya yang berbentuk lidah api berlapis emas. Dari atas ketinggian, kita bisa menikmati pemandangan kota Jakarta yang mungkin jarang kita temui.

Pro Tips #1

Kalau kalian lagi ada di puncak Monas bareng pacar, jangan pernah pakai gombalan kaya gini :
     Cowok : Ku akui aku takut ketinggian. Ku akui aku takut kegagalan. Ku akui aku juga takut kegelapan. Tapi...
     Cewek : ...tapi kamu lebih takut kehilangan aku kan?
     Cowok : YEE, GEER! GUE LEBIH TAKUT KALO SEKARANG MATI LAMPU. NANTI KITA GAK BISA TURUN NAIK LIFT ANJIR. KAN CAPEK TURUN NAIK TANGGA!!!

Di samping itu, kita bisa melakukan beberapa kegiatan asyik, seperti : melihat relief tentang sejarah Indonesia di halaman Monas, mengunjungi Museum Sejarah Indonesia yang teletak di lantai dasar, melihat naskah proklamasi asli di Ruang Kemerdekaan, atau sekedar main layang-layang kecil seharga Rp10.000 - Rp20.000
Pro Tips #2

Buat kalian yang pengen lebih irit, silakan bawa layang-layang sendiri dari rumah. Karena kalau menurut pengalaman gue saat beli di agen, harga layang-layang hanya Rp300 per buah..... yang berarti kalau kalian beli banyak dan di jual lagi di Monas seharga Rp3000, maka kalian akan untung 10 kali lipat!

3. Taman Menteng

Taman Menteng (sumber)

Salah satu ruang terbuka hijau yang terletak di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat ini memang punya fasilitas cukup lengkap. Mulai dari lapangan futsal, volly, basket, mushola, lintasan jogging, arena bermain anak, toilet, hingga rumah kaca yang biasa dipakai untuk sebuah pameran seni.

Tapi di samping itu semua, ada satu fasilitas super penting yang sangat cocok untuk anak kost fakir kuota seperti gue saat kuliah dulu, yaitu WIFI GRATIS! Ya, Taman Menteng menyediakan fasilitas wifi gratis untuk semua pengunjungnya. Jadi tidak heran kalau taman ini sering dijadikan tempat kopdar beberapa komunitas yang ada di Jabodetabek. Komunitas-komunitas tersebut antara lain :
     - Komunitas Vespa Tameng (Vespa Taman Menteng),
     - Komunitas Fixed Gear,
     - Komunitas Jakarta Rolling (Sepatu Roda),
     - Komunitas Banteng SW (Barian Menteng Street Workout),
     - Komunitas Harmonica Enthusiast,
     - Komunitas Motret (Komet)
     - Komunitas Baca-Baca di Taman (KBBT),
     - Komunitas Malam Puisi Jakarta (@malampuisi_JKT), dan masih banyak lagi.

Hanya satu komunitas yang gak akan kalian temui di Taman Menteng, yaitu Komunitas Anak Usil Tapi berhati beSAR, atau kalau disingkat jadi KAUTSAR. Itu mah cuma bisa ditemui di Bekasi, tepatnya di rumah nyokap gue.
.
.
Wkwkwkwk
.
.
Wkwkwk
.
.
Wkwk
.
.
Wk
.
.
Apaansi anying gak jelas!

4. Art : 1 New Museum

Art:1 Museum (sumber)

Selanjutnya ada tempat ngebolang khusus buat kalian yang merasa berjiwa seni tinggi. Jadi kalau saat masih TK teman-teman yang lain menggambar gunung, sawah dan matahari, sedangkan kalian memilih menggambar ulang lukisan The Starry Night-nya Van Gogh atau The Mona Lisa-nya Leonardo Da Vinci, maka kalian lah orang tepat untuk berkunjung ke Art : 1 New Museum di Jalan Rajawali Selatan Raya No. 3, Jakarta Pusat.

Museum yang mengusung jargon "Art :1. Art for every one" ini memiliki design modern minimalis dengan garis-garis sederhana yang futuristis dan fasad eye catching berwarna merah. Beragam objek unik yang menarik untuk diabadikan pun dapat kita temukan di bagian dalam museum. Seperti seni rupa lukisan, patung, dan seni rupa instalasi. Sehingga museum ini sangat cocok buat kalian yang ingin profil Instagram-nya dipenuhi foto-foto artistik.

Secara keseluruhan, Art : 1 New Museum dibagi ke dalam beberapa ruangan, di antaranya :
     - Lobby foyer; Ketika masuk ke bagian lobby, kita akan disambut oleh sebuah seni instalasi besar karya Sunaryo yang diberi nama "Titik Jeda". Seni instalasi ini menggambarkan filosofi Art : 1 New Museum dalam membangun infrastruktur yang kuat untuk seni di Indonesia. Hasilnya adalah beberapa patung orang berwarna silver, yang sedang membuat bangunan di atas scaffolding berwarna merah menyala.

     - Art Space 1, ”Fine Art and Social Text”. Pada bagian museum ini, dipajang beberapa seni rupa kontemporerbaik seni lukis maupun seni instalasiyang menggambarkan permasalahan sosial, terutama penegakan hukum di Indonesia. Salah satu contohnya diilustrasikan oleh lukisan Dewi Keadilan yang matanya tertutup dengan sehelai pita, sedang menggenggam seorang laki-laki di salah satu tangannya.

     - Art Space 2, “Beyond the Mooi Indie”. Sedangkan di bagian Art Space yang ke dua, dipajang beberapa seni lukis yang menggambarkan kecantikan dan keeksotisan Indonesia. Berawal dari seniman-seniman Belanda sebagai pionernya, yang kemudian dilanjutkan oleh seniman-seniman lokal yang ada di negeri ini.

     - Art Space 3, “Indonesian Art in the Twentieth and Early Twenty First Century”. Lalu pada bagian Art Space yang terakhir, terdapat beberapa seni lukis yang menggambarkan perkembangan karya pelukis di Indonesia dari akhir abad ke-20 hingga abad ke-21. Lukisan-lukisan yang awalnya beraliran romantis, kemudian mulai beralih ke aliran abstak dan kubisme.

Selain beberapa ruangan yang gue sebutkan di atas, ada pulang satu ruangan di lantai dua yang biasa digunakan untuk pameran-pameran seni, seminar, ataupun workshop. 

5. SeaWorld

Lorong Anatasena di SeaWorld Ancol (sumber)

Destinasi ngebolang yang terakhir ini sebenernya lumayan sering dijadikan tempat study tour oleh sekolah-sekolah di Jabodetabek. Tapi menurut gue, gak ada salahnya juga kalau setelah kuliah atau kerja, kita balik lagi ke tempat ini untuk sekedar melihat-lihat keanekaragaman hewan air. Yaa, siapa tau aja suatu saat nanti, ilmu yang terlihat sederhana ini akan berguna bagi kehidupan kita. Karena kalau kata Benjamin Franklin : "การลงทุนในความรู้ที่จ่ายดอกเบี้ยที่ดีที่สุด"
.
.
.
.
.
Beuh~ menginspirasi banget, kan?

Back to topic...

Berlokasi di Jalan Lodan Timur No. 7, Jakarta Utara, SeaWorld dapat dikatakan sebagai alive museum (museum hidup) dengan tiga misi utama, yaitu pendidikan, konservasi dan hiburan. Di sini kita bisa menemukan beragam anggota hewan air yang dibagi ke dalam beberapa ruang, antara lain :
     - Akuarium utama : Akuarium ini tercatat sebagai akuarium air asin terbesar di Asia Tenggara. Memiliki ukuran 38 m x 24 m, dengan kedalaman 6 meter, dan mampu menampung 5 juta meter kubik air laut. Terdapat sekitar 35.500 ekor ikan dari 35 spesies berbeda dipelihara di sini.
     
     - Area Air Tawar : Sedangkan di area ini, kita bisa melihat koleksi-koleksi satwa air tawar dari berbagai negara, seperti Arapaima gigas dari Sungai Amazon, ikan siklida dari Afrika, ikan sirip layar dari Sungai Yang-Tze dan ikan dewa dari Jawa Barat.

     - Lorong Antasena : Selanjutnya ada sebuah lorong bawah air sepanjang 80 meter yang dilengkapi dengan pijakan berjalan otomatis dan kubah tembus pandang. Sehingga pengunjung hanya perlu diam dan berdiri untuk menikmati ikan-ikan yang berenang di atasnya. Karena keunikannya tersebut, Lorong Antasena seolah menjadi sebuah icon dari SeaWorld Jakarta.

     - Akuarium Dugong : Berbeda dengan akuarium utama yang berisi berbagai macam spesies, akuarium ini hanya berisi mamalia laut langka bernama Ikan Duyung (Dugong dugon). Tapi sayangnya, ikan duyung di sini gak bisa berubah jadi cewek cantik kaya di film-film. Karena kalau bisa, koleksi ikan duyung di SeaWorld Jakarta pasti akan habis dibawa pulang sama jomblo-jomblo ngenes kaya kalian... *digampar*

     - Akuarium Terumbu Karang : Lalu di akuarium yang terakhir, kita bisa melihat spesies-spesies unik pemercantik kehidupan bawah laut. Seperti sponge, koral, hingga ikan-ikan kecil dengan berbagai macam warna.

***

Nah, itu dia 5 destinasi ngebolang dari gue, kalau sedikit balik ke awal, gue jadi berpikir kalau rasa kangen ini seperti salah satu tahap dalam sebuah siklus. Mulai dari pertama kenal dengan mereka merasa memiliki banyak kesamaan kemana-mana selalu bareng lalu ada satu kondisi yang mengharuskan semuanya pisah jadi jarang kumpul kangen kumpul bareng mereka lagi. Tapi di sisi lain gue juga sadar, kalau udah kaya gini, kita gak bisa nyalahin siapa-siapa. Karena mungkin penyebabnya hanya sesederhana kita yang udah gak di tahap itu lagi.......... tahap di mana kumpul bareng mereka bisa sesederhana satu baris pesan dalam sebuah chat.

Jadi buat kalian yang masih ada di tahap kedua atau ketiga, satu pesan gue yang dikutip dari tweetnya @yeahmahasiswa :

Sabtu Bersama Suicide Squad.

Saat masih jadi pengangguran, siklus kesibukan gue hanyalah makan, nonton TV, main laptop, dan pup. Tapi sekarang, setelah bekerja di salah satu digital agency di Jakarta, kesibukan gue meningkat drastis. Bahkan saking sibuknya, gue pun dituntut untuk mengerjakan beberapa hal secara bersamaan. Misalnya makan sambil nonton TV, makan sambil main laptop, atau makan sambil pup.

Alhasil karena kesibukan dan ditambah rasa malas gue yang lebih besar dari dada Agung Hercules, gue jadi jarang buka blog. Sampai akhirnya hari Kamis yang lalu, kerjaan di kantor membuat gue membuka akun Google Analytic*.

(*) sebuah tools untuk menganalisa statistik pengunjung website/blog yang kita punya.

Dari Google Analytic, gue jadi tau bahwa dalam satu bulan terakhir, rata-rata pengunjung blog gue menurun. Hal ini otomatis memecut semangat gue untuk bikin postingan baru. Jadi kalau sebelumnya rasa malas gue lebih besar dari dada Agung Hercules, maka saat ini keinginan gue untuk menulis postingan menjadi jauh lebih besar dari dada Melinda Dee Hulk.

Nah di postingan kali ini, gue mau coba me-review 2 buah film yang paling gue tunggu di tahun 2016. Yaitu Suicide Squad dan Anak Jalanan the Movie.....
.
.
.
Gak deng, bercanda. Suicide Squad dan Sabtu Bersama Bapak.

Yaa, emang sih agak telat, karena filmnya pun udah gak tayang lagi di bioskop. Tapi percayalah.. seorang kepala mafia di Brazil pernah bilang : "lebih baik telat bikin review film daripada telat sadar kalau ternyata gebetan juga punya perasaan yang sama kaya kita."

1. Suicide Squad


Sebagai seseorang yang bukan DC fanboy, gue justru baru tau tentang Suicide Squad setelah nonton trailernya yang sempat booming di Twitter. Potongan scene yang menarik, karakter Joker yang lebih modern, dan ditambah backsound dari lagu Bohemian Rhapsody cukup membuat gue berkespektasi lebih terhadap film ini. Walaupun sayangnya, setelah nonton filmnya di bioskop, ada beberapa bagian yang sedikit membuat kecewa.

     - Alur cerita
Dari sisi cerita, Suicide Squad sebenarnya punya opening yang keren. Tapi sampai di tahap pengenalan tokoh, konflik yang ada terkesan gak berkembang dan kurang greget. Sehingga hal ini berefek pada ending cerita yang mudah ditebak.

Padahal menurut gue, cerita adalah salah satu faktor yang paling penting dalam sebuah film. Jadi kalau aja film ini sedikit ditambahkan twist tak terduga atau konfliknya sedikit dibuat lebih rumit --seperti misalnya Harley Quinn yang ternyata punya kerjaan sampingan sebagai beauty vlogger dan dia harus memilih antara bikin video mailtime atau melawan Enchantress-- mungkin ceritanya pun akan menjadi lebih menarik.

     - Tokoh
Sedangkan dari sisi tokoh, penggambaran karakter Joker yang metroseksual tapi tetap psycho di trailernya, justru gak mendapatkan porsi lebih. Padahal gue yakin, di luar sana ada banyak orang selain gue yang juga penasaran dengan Joker versi Jared Leto. Terlebih lagi karena ia pernah mendapat piala Oscar sebagai aktor pendukung terbaik di tahun 2014 lalu.

Mungkin balik lagi karena gue bukan seorang DC fanboy, jadi untuk beberapa karakter, gue merasa latar belakang "mengapa mereka disebut penjahat kelas kakap" masih samar. Seperti misalnya yang paling terasa adalah latar belakang kisah dari karakter Killer Croc.

Di sisi lain, justru penampilan Margot Robbie-lah yang menurut gue terbaik di film ini. Konyol, lucu, manja, cantik, seksi dan psycho semuanya keluar ketika ia memerankan karakter Harley Quinn. Chemistry kuat yang dibangun bersama Joker pun memberikan gambaran unik kisah cinta partner in crime gila yang jarang ditemui dalam film superhero lainnya.

Satu-satunya kekurangan Harley Quinn hanya terletak pada panggilan sayangnya buat Joker, yaitu Puddin'. Sebenarnya gak ada yang salah sih dengan kata tersebut. Tapi gue takut kalau ternyata film ini menginspirasi anak-anak ABG di Indonesia untuk ikut-ikutan manggil pacar mereka dengan sebutan Puddin'. Karena akan jadi gak lucu kalau kedepannya kita menemukan dua anak SMP lagi pacaran di fly over, lalu si cewek bilang : "My puddin, hari ini kita belum melakukan tindak kejahatan bareng-bareng loh. Gimana kalau kita pencetin bel rumah orang di komplek A terus cepet-cepet lari?"

Sungguh kejahatan paling tidak manusiawi yang pernah ada di muka bumi...

     - Lainnya
Meskipun ringan dari sisi cerita, menurut gue Suicide Squad patut mendapat apresiasi dari sisi visual dan music scoring. Pemilihan tone warna yang keren, visual effect yang rapi, dan ditambah dengan soundtrack pengisi film, seperti Bohemian Rhapsody yang dicover Panic! at the Disco serta Purple Lamborghini yang dibawakan oleh Skrillex dan Rick Ross, cukup membuat kekecewaan gue terobati. Jadi secara keseluruhan, film ini akan sangat menghibur jika kita tidak hanya melihat dari sisi cerita saja.

2. Sabtu Bersama Bapak



Di hari lebaran yang lalu, Andra (yang sebelumnya gue ceritain di postingan ini) ngechat gue.
Pohon gandum, pohon cemara
Assalamualaikum, wahai saudara

Pohon inang pohon benalu
Ikan lele ikan patin
Tanpa terasa ramadhan berlalu
Mohon maaf lahir dan bathin

Ada hewan makan besi
Ada yang punya air raksa
Wahai kawan jangan emosi
Kalo pantunnya rada maksa.

Eid Mubaraq, semoga kedepannya menjadi insan yang lebih baik

Andra dan Keluarga

Karena gak mau kalah, gue pun balas chat dia dengan ucapan selamat lebaran paling puitis, penuh makna, dan legendaris.
Walau hati gak sebening XL dan secerah MENTARI. Banyak khilaf yang buat FREN kecewa, kuminta SIMPATI-mu untuk BEBAS-kan diri dari ROAMING dosa, kita hanya bisa angkat JEMPOL pada-Nya yang selalu buat kita HOKI dalam mencari kartu AS dan STAR ONE selama hidup, kita harus FLEXI-bel untuk menerima semua pemberian-Nya dan menjalani MATRIX kehidupan ini. Semoga amal kita tidak ESIA-ESIA.

Rizqi Kautsar
(masih sendiri)
Ya, itu adalah template ucapan selamat lebaran yang udah gue pakai sejak masih SMP,  saat handphone gue masih Nokia 3310. Saat SMS belum tergantikan oleh Whatsapp dan LINE. Serta saat beban pikiran terbesar gue adalah bagaimana cara bolos ekskul setiap hari Sabtu, bukan bagaimana cara bayar cicilan sementara uang udah habis dipakai keperluan lain yang juga mendesak setiap bulannya.
.
.
.
Sianying malah curhat....... :(
Lanjut!

Berawal dari chat tersebut, Andra pun mengajak gue untuk nonton film Sabtu Bersama Bapak. Tapi karena takut nangis saat nonton, dan dua orang cowok yang nangis bareng di bioskop itu sama sekali gak keliatan macho, akhirnya kita sepakat untuk mengajak masing-masing satu teman cewek. Selain itu, kita juga sepakat untuk nonton di bioskop yang relatif sepi, agar bisa mesum tanpa ketauan lebih menikmati filmnya.

Selang beberapa hari kemudian, ketika gue akan masuk ke dalam bioskop, timbul sedikit kekhawatiran bahwa film Sabtu Bersama Bapak tidak akan sebagus novelnya. Yaa, walaupun sebenarnya sih kita gak bisa membandingkan keduanya secara langsung, karena novel dan film adalah dua genre seni yang berbeda. Tapi ketika gue melangkah keluar dari bioskop, kekhawatiran gue justru terjawab dengan baik, dan kesan yang gue dapat untuk film ini kurang lebih sebagai berikut :

     - Alur cerita

Dari sisi cerita, gue suka cara bagaimana Adhitya Mulya dan Monty Tiwa mengadaptasi bab-bab yang ada di dalam novel menjadi sebuah film berdurasi 111 menit. Meskipun gue juga merasa kalau alur pada tahap pengenalan tokoh agak terlalu cepat, namun ketika konflik masing-masing tokoh utama mulai berkembang, cerita jadi lebih mengalir dan enak untuk dinikmati.

Tak ketinggalan, ciri khas seorang Adhitya Mulya yang selalu menyisipkan unsur komedi dengan banyak pesan tersirat pun membuat film ini seperti sebuah "paket yang lengkap".

     - Tokoh

Sedangkan dari sisi tokoh, hampir semua pemain memerankan karakter yang sesuai dengan bayangan gue saat membaca novelnya. Seperti sosok Pak Gunawan (Abimana Aryasatya) yang dewasa, Ibu Itje (Ira Wibowo) yang tegar, Ayu (Sheila Dara Aisha) yang kalem, pasangan Satya - Rissa (Arifin Putra - Acha Septriasa) yang serasi, serta pemeran pendukung Firman (Ernest Prakasa) dan Wati (Jennifer Arnelita) yang otaknya gesrek.

Hanya Deva Mahenra yang menurut gue "terlalu ganteng" untuk memerankan karakter Cakra. Karena kalau kita membaca novel Sabtu Bersama Bapak, ada dua potongan kalimat yang cukup menggambarkan sosoknya, yaitu :
1. "Cakra berambut ikal dan menjadi gimbal tak terkendali setiap kali terlambat potong rambut. Itu sebabnya dia selalu memotong rambutnya pendek..." (Sabtu Bersama Bapak, hal. 10) 
2. "...jika sang kakak dan adik harus menggantungkan nyawa mereka kepada kegantengan masing-masing, Cakra akan mati lebih dulu. Dengan cepat." (Sabtu Bersama Bapak, hal. 10)  
Kesimpulan :
  • Cakra (versi novel) : gak terlalu ganteng, berambut ikal dan jadi gimbal kalau terlambat potong rambut.
  • Deva Mahenra : ganteng banget, rambut lurus.
  • Gue : gak terlalu ganteng, berambut ikal dan jadi gimbal (atau kribo) kalau terlambat potong rambut.
Dari tiga poin di atas, sangat jelas terlihat bahwa seharusnya yang memerankan karakter Cakra adalah gue. BUKAN Deva Mahenra!
Foto 4 tahun lalu, saat akting sebagai penjual stiker UI. Kurang cocok apa coba sama karakter Cakra (versi novel)? *digampar*

     - Lainnya

Secara keseluruhan, gue menyayangkan kombinasi antara cerita dan kualitas akting pemain yang cukup baik ini gak didukung dengan teknik editing yang baik pula. Efek lens flare dan blur di beberapa adegan emosional, serta color grading yang menurut gue agak kurang pas, membuat kenyamanan saat menonton sedikit terganggu. Tapi terlepas dari hal tersebut, gue tetap puas karena akhirnya salah satu novel favorit gue telah diadaptasi menjadi sebuah film dengan cukup baik.

So buat kalian yang belum sempet nonton film Suicide Squad dan Sabtu Bersama Bapak di bioskop, gue sangat merekomendasikan untuk menonton kedua film ini ketika DVD originalnya telah rilis nanti.

Last but not least, saran gue untuk para orang tua yang ingin membawa anaknya nonton di bioskop, tolong pilih film yang rating umurnya sesuai. Entah itu semua umur (SU), remaja (R) ataupun dewasa (D). Karena selalu ada kemungkinan anak kalian akan mengganggu penonton lainnya.

Seperti misalnya kejadian saat gue menonton Sabtu Bersama Bapak kemarin. Ketika film hampir sampai pada klimaksnya, semua orang fokus ke layar, suasana menjadi begitu hening, gue dan Andra pun udah siap-siap nangis kejer. Lalu tiba-tiba seorang anak kecil di samping gue teriak "Ih, mama nangis... Pah, coba liat, Pah! Mama masa nangis..."
.
.
.
.
.
Err...
.
.
.
.
.
Ini tuh ibarat mau BAB, udah jongkok, ujungnya udah keluar dan ngegantung. Tiba-tiba pintu WC didobrak orang tak dikenal dan dia teriak : "IH ADA YANG EEK... PAH, COBA LIAT, PAH! MASA ADA YANG EEK."

FAKYU!

9 Bulan yang "Gitu Doang Nih?".

Di postingan sebelumnya, gue sempet cerita sedikit tentang salah satu novel yang udah mulai gue baca sejak bulan Oktober 2015 lalu. Novel tersebut berjudul Confessions of a Call Center Gal, bergenre chicklit, dan terdiri dari 461 halaman.
Confessions of a Call Center Gal
cover Confessions of a Call Center Gal (sumber)

Sebenernya sekilas gak ada yang salah dengan bukunya. Tapi karena gue baca yang versi terjemahan, bahasa di dalamnya malah terkesan "kaku", sehingga beberapa jokes yang ada jadi "tanggung" dan "kurang kena". Padahal banyak review yang bilang kalau jokes di buku ini tuh sama kampretnya dengan jokes di buku-bukunya Sophie Kinsella.

Alhasil gue pun butuh waktu sekitar 9 bulan buat baca buku ini sampai selesai. IYA, 9 BULAN... yang kalo diibaratkan orang pacaran, 9 bulan adalah masa di mana sifat asli atau kebiasaan aneh pasangan perlahan mulai muncul. Misalnya kebiasaan si pacar saat lagi ngedate yang suka ngegigitin kuku...
.
.
.
kuku jempol kaki...
.
.
.
jempol kaki Pak RT...



Oke, ini mulai absurd. Back to topic.

Jadi tepatnya hari Jum'at kemarin, novel tersebut selesai gue baca. Alurnya kurang lebih kaya gini :
Seorang cewe bernama Maddy baru lulus kuliah  lalu ia diajak sahabatnya, Karsyn, untuk kerja di Kantor Operator  di sana Maddy ketemu Mika, cowok ganteng yang udah punya pacar   Mika diselingkuhin pacarnya  Mika deket sama Maddy  akhirnya Mika dan Maddy jadian.
YHA! Beginilah ekspresi gue saat sadar telah menghabiskan waktu 9 bulan untuk baca novel dengan alur cerita yang lebih mirip FTV SC*TV :
9 bulan yang...........

Emang sih ketika memutuskan buat beli dan baca novel ini, gue emang gak terlalu berharap lebih sama alurnya. Karena sebenernya gue lebih penasaran sama sisi komedi yang ada. Lagipula agak gak mungkin juga di sebuah novel chicklit kita bisa menemukan twist-twist yang tak terduga seperti :
  • Ternyata Maddy seorang ketua sekte pemuja setan terbesar di Idaho1 dan dia ngedeketin Mika karena sektenya butuh tumbal seorang cowok jomblo ganteng yang lagi patah hati, atau
  • Ternyata Mika adalah alien dari planet Namec yang diutus untuk nyari Dragon Ball. Tapi nyasar ke Idaho karena dia gak bisa buka GMaps, akibat lupa ngisi paket internet.
1 Idaho : latar tempat di novel Confessions of a Call Center Gal.

Tapi dari buku tersebut ada satu hal yang gue bisa ambil, yaitu : jadi costumer service itu gak gampang. Di satu sisi, mereka ditekan oleh perusahaan untuk mencapai target penjualan. Tapi di sisi lain mereka juga dipaksa harus tetap memberikan pelayanan terbaik ke pelanggan.

Kalo mengutip salah satu paragraf di bab akhir buku ini :
"Ketika penelpon menyerang dengan melempar makian, ancaman, keluhan, omelan dan kata-kata negatif, itu menimbulkan efek pada kami setelah beberapa saat. Percayalah padaku; aku sudah sering melihat beberapa teman kerjaku menangis dan menderita gangguan saraf. Tapi kurasa aku juga bisa melihat apa yang dirasakan kedua belah pihak (-re : penelpon dan customer service). Kadang-kadang keluhan dan rasa frustasi para penelpon bisa dimaklumi. Mereka tidak menelpon kalau mereka bahagia dan puas; mereka hanya menelpon ketika ada masalah dan mereka marah."
Well.. walaupun alurnya ringan, tapi novel ini cukup membuat gue berpikir tentang kutipan paragraf di atas, seraya berdoa semoga kedepannya gak banyak customer service yang nawarin kartu kredit atau tv kabel lagi ke gue. Saya belom minat, mbak. :")

Dandanan Lo Norak Banget, Kampreeeet!

Setelah nonton AADC 2 beberapa hari yang lalu, gue mendadak kangen Jogja. Ya.. emang sih gue baru satu kali liburan di sana, tapi entah kenapa, film tersebut bikin gue pengen balik lagi ke Jogja...
.
.
.
.
.
...bareng Dian Sastro. *dikeplak*

Ada Apa Dengan Cinta 2
Duh, Dian Sastro ini... buang dahak sambil teriak "HOEEK CUH!" juga tetep cantik deh kayanya. :")
(credit : Miles Films)

Selama 124 menit film diputar, fokus gue terbagi ke dalam tiga hal, yaitu : 70% untuk Mba Dian, 5% untuk jalan cerita dan sisanya untuk pikiran gue yang mengawang ke masa-masa libur kuliah saat semester 5 dulu.

Jadi saat itu, di sekitar akhir Desember 2013, gue dan dua orang teman liburan di Jogja. Tapi sebagai mahasiswa yang selalu mengandalkan Promag sebagai makanan pokok, kita bertiga pun memilih berlibur ala anakkostdiakhirbulanyanglagibackpackeran.

YAK, BENAR! LIBURAN SUPER IRIT!

Misalnya :
     - untuk urusan transportasi pulang-pergi, kita naik kereta ekonomi AC yang cuma Rp 50.000.
     - untuk urusan tempat tinggal, kita menginap di salah satu kamar kost anak UGM yang merupakan teman SMA-nya teman gue.
     - untuk urusan transportasi selama di Jogja, kita nyewa SATU buah motor. Ditambah satu motor lagi milik teman SMA-nya teman gue yang kita isiin bensinnya sebesar..................... Rp 25.000 (motor bebek, full tank)
     - sedangkan untuk urusan makan, gue punya satu cerita...

Oh ya, gue lupa memperkenalkan nama-nama teman yang ada di postingan ini. Nama mereka adalah Andra (teman kuliah gue), Andri (teman kuliah gue juga), dan Andre (teman SMA-nya si Andri). Bukan, itu bukan nama asli dan mereka bertiga gak kembar. Gue aja yang males nyari nama~


Well, back to the story...


Sesampainya di kamar kost dan istirahat beberapa menit, Andre tiba-tiba nyeletuk :
     "Malam ini kalian mau kemana?"
     "Gak tau nih, Ndre. Belum ada rencana." jawab gue.
     "Hmm, pada mau dimsum gak? di Kafe XYZ lagi ada diskon 50% loh. Syaratnya cuma harus nunjukin kartu pelajar aja."

Karena mendengar kata diskon dan kartu pelajar yang selalu ada di dompet, kita bertiga langsung setuju dengan ajakan Andre.

sesaat sebelum berangkat
     "Ndri, pake celana pendek aja yuk! Cuma ke kafe doang, kan." ajak gue ke Andri.
     "Nggak ah, Sar, dingin. Gue pake celana ini aja." kata Andri sambil menunjukkan celana jeans panjangnya.

***

Singkat cerita, kita sampai di depan sebuah hotel yang memiliki desain eksterior lumayan mewah. Menurut perkiraan gue, ini adalah hotel berbintang 4.
     "Kok ke hotel, Ndre?" tanya Andra bingung.
     "Iya, kata teman gue kafenya di sekitar sini. Kayanya ada di dalam hotel deh.." jawab Andre sambil mengeluarkan handphone dan mulai menelpon seseorang.

Di sisi lain, dengan memakai celana pendek + kaos v-neck hitam + sendal hasil nyolong pas sholat Jum'at, gue mulai curiga akan salah kostum. Mungkin kalau muka gue seganteng Adam Levine sih, salah kostum pun gue akan biasa aja. Tapi apa daya, malam itu gue lebih terlihat mirip Taylor Lautner saat jadi serigala di film Twilight.

Selang beberapa saat kemudian, Andre menutup telponnya, lalu bilang kalau lokasi Kafe XYZ ada di dalam hotel. Dia juga bilang kalau saat itu udah ada 4 teman kuliahnya yang menunggu di sana. Masuk ke lobby hotel, rasa curiga gue jadi kenyataan. Gue melihat mayoritas pengunjung hotel tersebut memakai setelan semi formal..... atau bahkan formal. Ya, gue resmi salah kostum.

Gak cuma itu aja, karena ternyata 4 teman kuliah Andre ini semuanya cewek yang sepertinya jomblo, dan salah satu dari mereka, yang bernama Novia, sedang ulang tahun. Sehingga malam itu akan jadi malam traktiran untuk teman-teman kuliahnya, termasuk Andre.

Gue langsung pengen nge-chokeslam Andre.

Chokeslam WWE
chokeslam (sumber)

Karena merasa takut ganggu acara kumpul-kumpul mereka, maka gue, Andra, dan Andri sepakat untuk pisah meja.
     "Nov, ini acara traktiran lo, ya?" Andri mulai basa-basi.
     "Iya, kenapa, Ndri?"
     "Kita pisah meja aja deh, Nov. Takut ngerepotin. Lagian gak enak juga sama yang lain."
     "Gapapa kok.. kita gabung aja. Itung-itung nambah teman baru." jawab Novia yang langsung meminta menu.

Akhirnya malam itu, kita semua makan dimsum di satu meja. Kita ketawa bareng-bareng dan cerita banyak hal. Mulai dari cerita tentang tempat-tempat bagus di Jogja hingga yang lainnya. Novia juga ngajak kita untuk pergi ke Gunung Merapi besok siang, dan kita bertiga pun meng-iya-kan ajakannya.

Saking asyiknya ngobrol, gue sampai lupa kalau saat itu gue satu-satunya orang yang pakai celana pendek, kaos v-neck, dan sendal jepit di kafe itu. Sebab yang lainnya, termasuk Andra, Andri, Andre, Novia, dan 3 temannya memakai pakaian yang masih masuk kategori rapi hingga semi formal.

Sebelum pulang, gue sempat bilang ke Novia..
     "Nov, makasih ya traktirannya. Gak enak nih kita asal gabung aja. Padahal baru kenal."
     "Hehehe. Gapapa, Sar. Gue senang kok bisa kenal dan ngobrol sama kalian bertiga." jawab Novia sambil menatap gue dalam-dalam, seolah ingin berbisik dengan lembut di telinga gue :


"DANDANAN LO NORAK BANGET, KAMPREEEET!"


Catatan : untungnya saat itu gue masih memakai celana pendek berbahan jeans. Bukan celana bola atau celana boxer. Kalau gue pake celana itu, bisa-bisa gue yang dichokeslam sama Novia karena bikin malu acara traktiran ulang tahunnya. :")

[Analisis Ngaco] Korelasi Antara Cabe-Cabean dan Indonesia yang Lebih Makmur.

Cuma salah satu dari sekian hal random yang tiba-tiba terlintas di pikiran, berbentuk postingan pendek lepas dan mungkin gak akan berguna buat kalian...

Bagian 8

Karena ngeliat tweet temen yang ngeshare link postingan dari blognya, gue pun sadar kalau ternyata postingan terakhir di blog ini dibuat tanggal 16 Desember 2015. Itu berarti.. udah sekitar 4 bulan lebih gue absen bikin postingan.

Alasannya sih sederhana, saat itu gue lagi sibuk belajar hal-hal yang baru. Seperti belajar menahan hawa nafsu, belajar ilmu ikhlas, dan lain sebagainya. Sehingga gue jadi gak punya waktu luang untuk bikin postingan.
.
.
.
.
.
Nah, i'm kidding. because the fact is..

Sekitar 5 bulan lalu, gue mulai baca satu novel chicklit terjemahan yang menurut beberapa review isinya lucu. Tapi karena terjemahannya agak ngaco, lawakan-lawakan di dalamnya jadi terkesan "tanggung", dan gue males ngelanjutinnya. Sebagai Virgo, gue gak biasa lanjut ke novel lain sebelum satu novel selesai dibaca. Alhasil, sejak saat itu gue stuck di satu buku dan gue jadi kesulitan buat ngembangin ide postingan yang udah gue simpan di draft.


Kampret!

***

Di sisi lain.. sebagai seorang penerus bangsa yang peduli akan dunia sekitar, gue selalu mengisi waktu luang untuk mengamati. So di postingan kali ini, gue akan mempublikasikan tentang salah satu hasil pengamatan gue yang sangat penting. Dilengkapi dengan beberapa fakta menarik dan juga rumus-rumus matematika yang sangat rumit. Semoga kiranya ada hal-hal positif yang teman-teman bisa ambil.

Topik pengamatan gue adalah tentang........................ cabe-cabean.

Menurut Wikipedia, kata tersebut awalnya ditujukan untuk sekumpulan cewek "nakal" berpakaian minim + make up yang gak manusiawi. Bukan.. Mereka dicap nakal bukan karena suka manjat pager buat nonton konser Slank gratisan. Mereka dicap "nakal" karena konon cewek-cewek ini suka dijadikan objek taruhan di arena balap liar.

Ya, emang sih terdengar negatif. Tapi dari hal itu, gue malah kepikiran "ada gak ya hal positif dari para cabe-cabean?"
.
.
.
.
.
dan ternyata ada!

Mari kita analisis bersama-sama.. salah satu hobi cabe-cabean adalah berboncengan tiga orang di satu motor. Jika dilihat dari sudut pandang lain, maka hobi ini sebenarnya bentuk lain dari penerapan aturan 3 in 1 di kota-kota besar. Sehingga jelas hobi ini memiliki manfaat, yaitu dapat mengurangi macet.

Tapi itu belum seberapa, karena kalau kita amati lebih jauh lagi, maka yang mungkin terjadi kurang lebih akan seperti ini :

Cabe-cabean boncengan tiga orang  macet berkurang  emosi pengguna jalan berkurang  persentase penderita penyakit darah tinggi & stroke juga ikut berkurang  warga Indonesia menjadi lebih sehat.


ATAU


Cabe-cabean boncengan tiga orang  macet berkurang  waktu tempuh setiap orang ke suatu tempat jadi lebih cepat  konsumsi BBM ikut berkurang  jumlah minyak yang diimpor ke Indonesia juga (harusnya) ikut berkurang  menghemat APBN  APBN bisa dialihkan ke bidang lain seperti pertanian, pendidikan, pembangunan, dll  Indonesia menjadi negara yang lebih makmur.

See? ternyata ada korelasi antara hobi sekelompok cabe-cabean dengan Indonesia yang lebih sehat dan lebih makmur. Gokil! 

Kesimpulan : selalu ada hal positif yang bisa kita ambil dari hal paling negatif sekalipun. Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya. *senyum ganteng*

Catatan : Buat yang berharap ada rumus-rumus rumit seperti yang gue bilang di pertengahan postingan, maaf... jangankan rumus rumit, nyari luas segitiga aja gue kadang lupa dibagi dua. :")
.
.
.
.
.
Oh ya sedikit out of topic, berhubung postingan ini ada kaitannya dengan pengendara motor, gue punya satu info penting nih...

Cara ampuh menghindari pengendara motor ibu-ibu
---------
Aku-aku dari Crash Bandicoot! (Wiki) (Sumber : Instagram)


Baca juga :

Elevator ke Luar Angkasa!

Sekitar pukul 7 pagi tadi, gue udah duduk manis depan laptop untuk membaca beberapa thread yang ada di Kaskus. Iya, gue melakukan hal ini karena gue sadar, di zaman serba cepat seperti sekarang, gue harus selalu haus akan informasi dan ilmu pengetahuan. Sebab jangan sampai sebagai calon penerus bangsa gue malah tertinggal, lalu dapat dengan mudah dibodohi oleh bangsa lain yang telah lebih dulu maju beberapa langkah. *kesambet*

Disuruh Jadi Artis!

Tepat tanggal 28 Agustus yang lalu, gue wisuda, dan itu berarti gue juga resmi melepas predikat sebagai mahasiswa. Gue senang banget, karena perjuangan gue untuk titip absen selama empat tahun pun berbuah manis. Meski nyatanya rasa senang tersebut gak bertahan lama. Sebab dalam perjalanan pulang, gue merenung, lalu teringat kata-kata mutiara dari Albert Einstein yang bilang kalau "wisuda adalah pengangguran yang tertunda."

Wisuda Adalah Penangguran yang Tertunda